Ruwatan Menurut Islam: Panduan Definitif

Kata Pengantar

Halo, selamat datang di sekolahpenerbangan.co.id. Dalam artikel ini, kita akan membahas praktik ruwatan dalam perspektif Islam. Kami akan mengeksplorasi asal-usulnya, jenisnya, manfaat dan risikonya, serta pandangan Islam terhadap praktik kuno ini.

Pendahuluan

Ruwatan adalah praktik adat budaya Jawa yang bertujuan untuk menolak bala, membersihkan diri dari kesialan, atau mendatangkan keberuntungan. Praktik ini melibatkan berbagai ritual, seperti doa, sesajen, dan mandi kembang. Namun, pandangan Islam terhadap ruwatan terbagi menjadi beberapa pendapat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ruwatan tidak dibenarkan dalam Islam karena mengandung unsur syirik dan bertentangan dengan tauhid. Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ruwatan diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dilakukan dengan niat yang baik.

Untuk memahami pandangan Islam terhadap ruwatan secara lebih komprehensif, kita perlu mengkaji asal-usul, jenis, dan manfaat serta risikonya.

Asal-Usul Ruwatan

Asal-usul ruwatan tidak dapat dipastikan secara pasti. Namun, beberapa pendapat menyebutkan bahwa praktik ini sudah ada sejak zaman pra-Islam dan merupakan bagian dari kepercayaan animisme masyarakat Jawa.

Dalam kepercayaan animisme, manusia dipercaya dapat memperoleh kekuatan gaib dari roh-roh leluhur atau makhluk halus. Roh-roh ini diyakini dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik membawa keberuntungan maupun kesialan.

Ruwatan diyakini sebagai upaya manusia untuk berhubungan dengan roh-roh tersebut dan meminta perlindungan atau pertolongan mereka.

Jenis-Jenis Ruwatan

Ada berbagai jenis ruwatan yang dilakukan dalam masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Ruwatan Gathuk: Dilakukan untuk menolak bala atau kesialan yang dipercaya dibawa oleh kelahiran anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki.
  2. Ruwatan Suwuk: Dilakukan untuk menolak kesialan atau membersihkan diri dari dosa yang dipercaya dibawa oleh kelahiran anak pertama yang berjenis kelamin perempuan.
  3. Ruwatan Bumi: Dilakukan untuk membersihkan diri dari kesialan atau mendatangkan keberuntungan bagi tanah atau tempat tinggal.
  4. Ruwatan Kala: Dilakukan untuk menolak bala atau kesialan yang disebabkan oleh pergantian tahun atau waktu tertentu.

Manfaat dan Risiko Ruwatan

Beberapa orang percaya bahwa ruwatan dapat memberikan manfaat, seperti:

  • Menolak bala atau kesialan.
  • Membersihkan diri dari dosa atau ketidakberuntungan.
  • Membawa keberuntungan.

Namun, praktik ruwatan juga memiliki risiko, seperti:

  • Mengarah pada kesyirikan jika dilakukan dengan niat dan cara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
  • Memboroskan waktu dan biaya.
  • Menimbulkan rasa ketergantungan pada hal-hal di luar Allah SWT.

Pandangan Islam Terhadap Ruwatan

Pandangan Islam terhadap ruwatan terbagi menjadi beberapa pendapat:

  1. Pendapat Pertama: Berpendapat bahwa ruwatan tidak dibenarkan dalam Islam karena mengandung unsur syirik dan bertentangan dengan tauhid.
  2. Pendapat Kedua: Berpendapat bahwa ruwatan diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dilakukan dengan niat yang baik.

Untuk menentukan pendapat yang benar, perlu dilakukan kajian mendalam terhadap dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dalil-Dalil yang Melarang Ruwatan

Beberapa ulama yang melarang ruwatan merujuk pada beberapa dalil, di antaranya:

  • Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 151: “Dan janganlah kamu jadikan selain Allah Tuhan kamu supaya kamu tidak diseret ke dalam jahanam dalam keadaan tercela lagi menderita.” Ayat ini melarang umatnya untuk menjadikan selain Allah sebagai sesembahan, termasuk roh-roh atau makhluk halus.
  • Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun atau tukang sihir dan mempercayainya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” Hadits ini melarang umat Islam untuk mempercayai dukun atau tukang sihir, karena dapat mengarah pada kesyirikan.

Dalil-Dalil yang Membolehkan Ruwatan

Beberapa ulama yang membolehkan ruwatan merujuk pada beberapa dalil, di antaranya:

  • Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 259: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa hanya syirik yang tidak dapat diampuni oleh Allah SWT, sedangkan dosa-dosa lainnya dapat diampuni.
  • Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud: “Sesungguhnya kami dulu di zaman jahiliah melakukan ruwatan, dan ruwatan itu adalah hal yang paling baik di zaman jahiliah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui praktik ruwatan di zaman jahiliah, dan tidak melarangnya setelah beliau diutus.

Kesimpulan

Pandangan Islam terhadap ruwatan tidak dapat disimpulkan secara pasti. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, tergantung pada penafsiran mereka terhadap dalil-dalil yang ada.

Namun, dapat disimpulkan bahwa ruwatan tidak boleh dilakukan jika mengandung unsur syirik dan bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara itu, ruwatan dapat diperbolehkan selama dilakukan dengan niat yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Bagi umat Islam yang ingin melakukan ruwatan, disarankan untuk konsultasi dengan ulama yang terpercaya untuk memastikan bahwa praktik yang dilakukan tidak melanggar ajaran Islam.

Penutup

Praktik ruwatan telah menjadi bagian dari budaya Jawa selama berabad-abad. Namun, pandangan Islam terhadap ruwatan terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang melarangnya karena dianggap syirik, ada juga yang membolehkannya selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Bagi umat Islam yang ingin melakukan ruwatan, disarankan untuk memperhatikan pandangan ulama yang terpercaya dan memastikan bahwa praktik yang dilakukan sesuai dengan ajaran Islam.